Rabu, 26 November 2008

Kejayaan Pertambangan, 'Darah Segar' Kemakmuran

Seorang praktisi pertambangan awal Maret 2008 berpendapat saat ini sektor tambang sedang berada di titik ‘supercycle’. Hal itu bisa dlihat dari tingginya keyakinan investor untuk menanamkan modalnya di sektor pertambangan, sehingga memacu pertumbuhan kapitalisasi pasar secara signifikan baik di bursa internasional maupun bursa Indonesia.

Tak dapat dipungkiri 2005-2007 merupakan tahun kejayaan industri pertambangan. Meningkatnya harga komoditi di pasar global diprediksi tetap berlangsung sepanjang 2008. Sumbangan besar bagi perekonomian bangsa.

Seorang praktisi pertambangan awal Maret 2008 berpendapat saat ini sektor tambang sedang berada di titik ‘supercycle’. Hal itu bisa dlihat dari tingginya keyakinan investor untuk menanamkan modalnya di sektor pertambangan, sehingga memacu pertumbuhan kapitalisasi pasar secara signifikan baik di bursa internasional maupun bursa Indonesia.
Dari survey majalah tambang , tehadap sepuluh perusahaan tambang terkemuka di Indonesia (Top 10 Mining) menunjukan bahwa mereka rata-rata mengalami kenaikan keuangan fantastis. Beberapa perusahan yang dikelola ”anak negri” menunjukkan kinerja yang tak kalah oleh perusahaan asing, yang sudah banyak makan garam di dunia Internasioanal. PT Timah, sebuah perusahaan BUMN mencengangkan para pelaku bursa dengan mencatat tingkat keuntungan yang fantastis, jauh di atas PT INCO yang disebut-sebut sebagai perusahaan paling efisien.

Sejumlah investasi besar dipastikan bakal masuk pada 2008 menyusul segera disahkannya Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang baru.. Meski demikian, harus diakui semakin membaiknya kinerja keuangan sektor tambang secara umum diikuti pula oleh kenaikan beban operasional tunai. Penyebab utamanya adalah beban produksi yang lebih tinggi, ditambah kenaikan tingkat bunga seiring penambahan pinjaman sepanjang 2006. Hal ini sejalan dengan ekspansi produksi pada perusahaan-perusahaan batubara berskala besar. Pada 2006 dan 2007 perusahaan-perusahaan batubara belum mampu memanfaatkan kenaikan harga, karena terlanjur terikat oleh kontrak-kontrak jangka panjang.

PricewaterhouseCoopers (PWC), sebuah lembaga penasihat bisnis industri pertambangan, mencatat tingkat keuntungan perusahaan tambang Indonesia lebih rendah dibandingkan rata-rata global, karena kenaikan harga yang tinggi lebih dinikmati oleh para pemain global. Profitabilitas rata-rata dari perusahaan tambang Indonesia lebih rendah dibandingkan rata-rata 40 perusahaan tambang papan atas dunia. Harga minyak yang terus melonjak sejak 2005 sampai 2008 juga telah mendongkrak biaya produksi.

Sumbangan terhadap Perekonomian Indonesia
Dalam laporan Desember 2007 yang dirilis pada akhir Februari 2008 lalu, PWC mengungkapkan sejumlah hal penting yang berlangsung di dunia pertambangan sepanjang 2006. Yakni lonjakan harga mineral yang memicu peningkatan keuntungan dan pendapatan pada sektor pertambangan di Tanah Air sebesar 22% dengan laba bersih 17%. Kondisi itu membawa tingkat pengembalian dana pemegang saham juga meningkat hingga 39,4%, dibandingkan 2005 yang hanya 37,3%.
Meroketnya harga minyak mentah dunia telah membawa batubara menjadi komoditas primadona, dan itu berlangsung hingga kwartal pertama 2008 ini. Akumulasi dari itu semua berimplikasi pada meningkatnya pendapatan pemerintah dari pertambangan menjadi US$ 3,4 miliar pada 2006, dimana 70%-nya berasal dari pajak penghasilan dan royalti. Kontribusi sektor pertambangan ke Produk Domestik Bruto juga meningkat 7% dibandingkan 2005 yakni sebesar Rp 56 triliun. Belum lagi kontribusi terhadap ekspor Indonesia sebesar US$ 20 miliar, meningkat 40% dibandingkan tahun 2005.
Bukan hanya itu, industri pertambangan juga telah memberikan manfaat bagi Indonesia dalam berbagai aspek. Salah satu yang paling signifikan adalah pembangunan beberapa daerah terpencil di Indonesia, yang mungkin tidak akan terjadi tanpa peran langsung pertambangan. Perusahaan tambang seringkali menjadi pemberi kerja tunggal di beberapa daerah terpencil, belum lagi multiplier effect yang dihasilkan oleh aktivitas pertambangan. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia mengenai dampak ekonomi dari operasi tiga tambang besar yakni Inco, Kaltim Prima Coal, dan Freeport, menunjukkan secara gamblang multiplier effect yang ditimbulkan.

Tercatat aktifitas tiga perusahaan tersebut telah membuka kesempatan kerja langsung masing-masing 39,1 kali (Inco), 12 kali (Kaltim Prima Coal), dan 31,6 kali (Freeport). Dampak terukur terhadap perekonomian sudah termasuk gaji dan tunjangan yang diterima karyawan Indonesia, pembelian dari pemasok dalam negeri, pajak dan pendapatan lainnya yang diterima pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, juga dividen yang diterima pemegang saham Indonesia dan bunga yang diterima oleh bank-bank Indonesia.

Sepanjang 2006, PWC melaporkan bahwa total kontribusi pertambangan terhadap perekonomian Indonesia mencapai Rp 51,608 triliun, naik 5% dibandingkan 2005 yang hanya Rp 49,119 triliun. Jumlah itu meliputi upah pegawai Indonesia sebesar Rp 5,476 triliun, pembelian dari pemasok dalam negeri Rp 11,850 triliun, pendapatan pemerintah Rp 31,404 triliun, dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham Indonesia Rp 2,650 triliun, serta bunga yang dibayarkan ke perusahaan/bank di Indonesia Rp 228 miliar.

Secara rinci peningkatan kontribusi pertambangan terhadap perekonomian Indonesia pada 2006 adalah 57% untuk upah pegawai, 26% untuk pembelian dari pemasok lokal, 20% untuk pendapatan pemerintah, 18% untuk dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham Indonesia, dan 6% untuk bunga yang dibayarkan ke perusahaan/bank di Indonesia. Juga harus dicatat bahwa industri pertambangan merupakan komponen besar produk domestik regional bruto dari beberapa provinsi, yakni Papua, Bangka-Belitung, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Timur.

Data di atas merupakan hasil survei PWC (2000-2007) terhadap 65 respondennya, yang tediri dari 26 perusahaan tambang yang sudah berproduksi, dan 39 perusahaan tambang eksplorasi. Data survei juga menyebutkan jumlah individu yang dipekerjakan secara langsung oleh 65 perusahaan tambang itu sedikit meningkat pada 2006 dibandingkan 2005, yang dipengaruhi oleh peningkatan kapasitas produksi. Peningkatan jumlah pegawai terkurangi dengan adanya penutupan atau penurunan tingkat kapasitas produksi dari beberapa perusahaan pertambangan.

Melonjaknya sektor pertambangan menghasilkan rata-rata upah kotor tahunan yang lebih tinggi untuk pegawai Indonesia sebesar 61% (2006) dalam mata uang US$. Hal ini terutama disebabkan oleh manfaat tambahan yang diterima sebagai hasil dari kenaikan produksi serta penjualan. Secara keseluruhan, upah kotor tenaga kerja meningkat 49% atau Rp 6,314 triliun pada 2006. Pada 2005 upah kotor tenaga kerja tercatat Rp 4,251 triliun.
Jumlah pegawai yang dipekerjakan pada 65 perusahaan tambang itu mencapai 38.030 orang, meningkat 3% dibandingkan 2005 yang hanya 36.817 orang. Jumlah itu mencakup individu dengan kontrak tenaga kerja yang secara langsung disupervisi oleh perusahaan. Sedangkan individu yang dipekerjakan secara tidak langsung (melalui kontraktor dan pemasok) tidak termasuk di dalamnya. Hal ini ibarat ‘darah segar’ yang ditransfusikan ditengah sempitnya lapangan pekerjaan di Tanah Air.

Pengembangan Daerah & Masyarakat
Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil, membutuhkan dana besar untuk pembangunan dan pengembangan masyarakat. Di antara sektor-sektor yang lain, pertambangan terbukti telah memberikan sumbangsih besar dalam mengembangkan daerah-daerah terpencil, membangkitkan geliat perekonomian masyarakat, dan membawa kemajuan yang signifikan pada wilayah yang sebelumnya tak tersentuh.
Sumbangsih tersebut terasa makin nyata tatkala otonomi daerah berlangsung sejak 1999 silam. Ratusan daerah miskin bangkit menjadi sentra kegiatan ekonomi yang maju, seiring berlangsungnya aktivitas eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam pertambangan. Bukan hanya dalam bentuk penyerapan pegawai, pertambangan juga membawa kemajuan pendidikan, kesehatan, dan teknologi, yang berujung pada kemakmuran. Sejumlah yayasan sosial juga bermunculan dan tumbuh membangkitkan kesejahteraan.

Dari survey yang dilakukan Majalah Tambang , rata-rata responden pertambangan memberikan nilai positif terhadap sepuluh pertambangan terkemuka di Indoensia dalam hal community development . Beberapa perusahaan mengalokasikan sejumlah dana dari tahun ke tahun semakin bbesar, dengan peningkatan spektakuler. .

PWC mencatat total pengeluaran untuk pengembangan daerah dan kemasyarakatan, serta kontribusi untuk amal dan untuk yayasan nirlaba terus meningkat sejalan dengan kecenderungan naiknya harga dan produksi komoditas pertambangan, sepanjang 2005-2006. Sumbangan amal dan kontribusi pada yayasan nirlaba tercatat sebesar Rp 113 miliar (pada 2006), meningkat 49% dibandingkan 2005 yang hanya Rp Rp 76 miliar. Pengeluaran untuk kegiatan pengembangan daerah dan kemasyarakatan yang dilaporkan di tahun 2006 adalah Rp 991 miliar atau naik 26% dibandingkan 2005 yang hanya Rp Rp 784 miliar.

Peningkatan juga terjadi pada sumbangsih tambang terhadap aktivitas penelitian dan pengembangan yang mencapai US$ 4,678 juta pada 2006. Naik 56% dibandingkan tahun 2005 yang mencapai US$ 2,995 juta. Sedangkan kenaikan bersih dari akumulasi penyisihan cadangan untuk reklamasi dan penutupan tambang juga meningkat 22% atau US$ 78,259 juta pada 2006, dibandingkan pada 2005 yang hanya US$ 63,885 juta. Sementara pengeluaran untuk pelatihan pegawai turun 7% dari Rp 273 miliar pada 2005 menjadi Rp 255 miliar pada 2006.

Lebih dari lima tahun terakhir, tercatat 65 perusahaan pertambangan di Indonesia telah mengeluarkan lebih dari Rp 4,7 triliun untuk berbagai aktivitas yang terkait dengan kepentingan umum. Peningkatan ini secara umum sejalan dengan peningkatan laba yang dilaporkan industri pertambangan. Dengan demikian, ketika industri pertambangan membaik maka masyarakat di sekitarnya juga ikut menikmati dan daerah yang bersangkutan berangsur menjadi makmur.

sumber: majalah tambang

Tidak ada komentar: